Pagi ini, seorang teman datang dari kampung. Oleh-oleh yang dibawanya kali ini berbeda. Jauh lebih dahsyat dari sebelum-sebelumnya (kebiasaan anak Pantai Utara selalu bawa oleh-oleh sepulangnya dari kampung, terkadang bawa limau, kadang buah salak, banyaklah pokoknya). Kali ini yang dibawa adalah selebaran yang sebagai tertulis, dibuat oleh organisasi pemuda dua etnis di Singkawang yang isinya "meminta dan mendukung" Dewan agar memenuhi permintaan mereka yang rencananya akan masuk dalam paripurna DPRD Singkawang. Sebagai bentuk dukungan tersebut, dinyatakan kedua organisasi -yang entah kapan berdiri dan anggotanya itu- akan menurunkan masa sebanyak-banyaknya pada tanggal 8 dan 9 (tidak secara jelas ditulis bulan dan tahun, namun jika mengacu jadwal, maka pada tanggal tersebut di bulan Juli 2010 ini ada Pelaksanaan Paripurna). Selebaran tersebut juga menyatakan bahwa Dewan tidak usah takut kepada FPI, KNPI dan Melayu. Jika dikaitkan dengan Singkawang, maka yang dimaksud bisa jadi masalah Patung Naga agar tidak dipindahkan.
Meski sebagai orang Melayu Sambas asli, saya hanya tersenyum membacanya. Provokasi yang dimuat dalam selebaran tersebut dan tulisan "jangan takut Melayu" tak lantas membuat saya tersinggung atau marah sedikitpun. Bukan karena saya tak fanatik terhadap Melayu, namun lebih dikarenakan menurut saya isi dan pembuat selebaran ini mungkin sedang tidak ada kerjaan, atau ingin mengadu domba masyarakat, bisa jadi juga karena kepentingan-kepentingan yang lain oleh karenanya tidaklah penting......
Kalaupun pada akhirnya selebaran yang katanya dibagikan ke umum di simpang empat gedung juang ini memantik permasalahan di tengah masyarakat, saya berharap kepada masyarakat Melayu tidak ikut terpancing. Berpegang saja pada adat. "Adat bersendikan syara'; syara' bersendikan kitabullah), artinya, berpedomanlah kepada syariat Allah SWT yang menyatakan bahwa "diciptakannya manusia ke muka bumi ini adalah untuk menjadi khalifa", bukan menjadi perusak sebagaimana yang dikatakan malaikat saat Allah SWT menyatakan akan menciptakan manusia (ayat dan surahnya lupa).
Dalam al-Quran surah an-Nisa’ (4) ayat 36 dinyatakan bahwa:“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An-Nisa, 4: 36).
Bustami A. Gani, dkk (1991:185) menyimpulkan bahwa kandungan ayat tersebut berkaitan dengan hubungan sesama masyarakat, dijelaskan bahwa setelah Allah SWT memerintahkan agar menyembah dan beribadah kepadaNya saja dengan tidak mempersekutukanNya dengan yang lain, selanjutnya Allah memerintahkan agar berbuat baik kepada ibu bapak. Setelah itu Allah juga menyuruh berbuat baik kepada tetangga dekat dan tetangga jauh. Yaitu orang-orang yang berdekatan rumah, sering berjumpa tiap hari, nampak setiap keluar masuk rumahnya. (Bustami Abdul Ghani dkk, 1991:178). Selain itu, juga ada ayat yang menyatakan bahwa kita harus berlomba-lomba dalam kebajikan (QS. Al-Baqarah, 2: 148 dan QS. Al-Maidah, 5: 51).
Jelas sekali bahwa dalam pergaulan sehari-hari masyarakat Melayu harus selalu berbuat dan bertutur kata yang baik dengan orang lain, tanpa memandang asal-usul orang tersebut. Secara spesifik, dalam berhubungan dengan sesama manusia, ada adab-adab yang mesti diperhatikan.
Pertama, adab kepada orang yang lebih tua. Hendaknya dalam berhubungan dengan orang lebih tua umurnya kita harus berlaku sopan dan hormat. Tidak boleh kita berlaku sembarangan, atau memperlakukan dengan cara yang tidak baik. Hal-hal tersebut harus diperhatikan, karena orang yang lebih tua umurnya telah banyak makan asam garam kehidupan (pengalaman). Kepada yang tua lah kita belajar menjalani hidup ini, agar tak jatuh pada kesalahan yang sama dengan yang mereka pernah lakukan.
Kedua, adab kepada mereka yang umurnya setara dengan kita. Dalam berhubungan dengan orang-orang yang seumuran dengan kita haruslah tetap menaruh hormat, karena meski memiliki umur yang sama, bisa jadi orang tersebut memiliki ilmu, amal dan akhlak yang lebih baik dibanding diri kita sendiri.
Ketiga, adab kepada mereka yang lebih muda. Mereka yang mempunyai umur lebih muda, bukan berarti punya ilmu yang sedikit, amal yang secuil atau akhlak yang kurang baik. Terkadang malah merekalah ahli ibadah, alimin, serta berbudi pekerti yang shaleh. Tidak ada salahnya kita menaruh hormat. Namun yang terpenting adalah kepada yang muda, kita harus menyanginya. Bertutur kata yang baik lagi sopan. Pepatah menyatakan; “Bahasa dan Bangsa tiada dijual atau dibeli”. Maksudnya adalah kita akan dihormati oleh orang lain, jika budi bahasa kita baik.
Jelaslah sudah apa yang mesti kita lakukan. Cukuplah selebaran ini disatukan dengan kertas-kertas lain untuk selanjutnya di kilo...(kan lumayan, jadi duit)
Kamis, 08 Juli 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar