Tentu semua tahu extravaganza. Sebuah program TRANS-TV yang menyajikan humor-humor segar dengan gaya komedi panggung. Pada sebuah tayangannya, diangkatlah sebuah tema tentang “kampung terbalik”.
Kisah bermula dari pasangan suami istri yang tersesat pada sebuah desa yang mereka berdua tak tahu letaknya. Meski sudah membaca peta.
Hingga akhirnya mereka berhenti di depan rumah seseorang. Tak lama berselang, sang tuan rumah keluar, melihat ada tamu di depan rumahnya. Sanga tamu ditanya asal-usul dan maksud kedatangan.
Sang tamu heran tatkala tuan rumah tersebut menyapa mereka dengan sebuah gamparan keras. Tatkala ditanyakan, ternyata itu adalah tradisi yang biasa dilakukan pada saat menyambut kedatangan tamu. Berbanding terbalik dengan budaya kebanyakan yang menyambut tamu dengan salam, atau sekedar tegur sapa.
Keheranan pasangan suami istri ini bertambah tatkala melihat sang tuan rumah mengenakan pakaian wanita. Padahal jelas-jelas dari postur, wajah, serta tubuh orang tersebut berkelamin pria.
Setelah dijelaskan (tepatnya diingatkan) orang tersebut sadar, bahwa segala sesuatu di Kampung Terbalik, harus terbalik. Termasuk dalam hal pakaian. Yang wanita memakai pakaian, pekerjaan, serta hal-hal yang mestinya dipakai pria. Sedangkan yang pria kebalikannya,menggunakan pakaian, pekerjaan serta hal yang berkaitan dengan yang dilakukan seorang pria.
Setelah itu, sang tamu diperkenalkan dengan anggota keluarga tuan rumah tersebut. Pertama, sang istri yang cantik. Menggunakan jas hitam lengkap dengan dasi, celana panjang dan sepatu kets, yang pantasnya dipakai seorang lelaki. Tak jauh beda, saat bertemu dengan tamunya, dia langsung menggampar sang tamu sekuat tenaga. “Salam penghormatan dalam budaya Kampung Terbalik” Ungkap sang istri tuan rumah.
Sang tamu yang telah mengetahui budaya itu, hanya diam menahan sakit. Sambil mencoba untuk sedikit tersenyum ramah. Setelah itu, sang istri tuan rumah memanggil anaknya yang ternyata seorang kakek-kakek. Dan begitu pula kejadiannya. Sang tamu digampar dengan keras, sebagai penghormatan atau tanda salam hangat.
Demikian penggalan kisah Kampung Terbalik. Kampung yang pastinya tak bisa kita temukan keberadaannya di dunia ini, namun, ada hal yang bisa kita jadikan catatan.
Kampung Terbalik dan Fenomena Kekinian
Kisah Kampung Terbalik hanyalah sebuah komedi humor untuk menghilangkan strees. Kampung Terbalik menjadi sesuatu yang membuat strees otak adalah tatkala kita mencoba untuk melihat fenomena komedi humor yang ada dan mengaitkannya dengan keadaan kekinian. Menurut hemat penulis, apa yang disampaikan dalam komedi tersebut mengingatkan pada fenomena yang terjadi saat ini. Banyak di antara orang-orang yang dipercaya menjalankan amanah rakyat, lalu menjadi seseorang pesakitan rumah sakit meja hijau karena melakukan penyelewengan.
Seharusnya, seseorang yang diberi kepercayaan masyarakat banyak, menjalankan amanat tersebut dengan jujur dan bertanggung jawab, sehingga nantinya menjadi suri teladan dalam berbuat. Namun apa hendak dikata. Ternyata banyak yang melakukan penyimpangan-penyimpangan. Korupsi misalnya.
Berita tentang Mantan Dirut Perum Bulog Widjonarko Puspoyo yang divonis 10 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena terbukti melakukan gratifikasi terkait impor beras dari Vietnam senilai Rp.USD 1,6 juta dan kasus korupsi ekspor beras ke Afrika Selatan senilai RP.78,3 miliar, menurut penulis merupakan sebuah realita kampung terbalik. Dipercaya untuk mensejahterakan masyarakat, malah menyengsarakan. “Dipercaya khianat, berkata selalu bohong, berjanji selalu ingkar,” demikian ungkap Rasul SAW saat memberikan penjelasan tentang ciri-ciri orang munafik.
Selain itu, alam yang diciptakan oleh Tuhan sebagai penopang kehidupan manusia, ternyata lingkis pais (baca: habis) dijarah oleh mereka yang tak bertanggung jawab. Fenomena ini, menurut penulis juga masuk kategori kampong terbalik. Seharusnya alam dipelihara dengan baik. E…, malah dijadikan korban kantong-kantong oknum tertentu. Maka jangan ribut jika saat terjadi hujan lebat, Jakarta banjir. Kemarin juga sempat terjadi di Kabupaten Sambas. Dan yang paling sering ya di Pontianak.
Mengenai pendidikan, yang memegang kunci untuk sebuah kemajuan bangsa, ternyata hanya dijadikan prioritas yang kesekian. Padahal Jepang (untuk sementara Jepang saja yang menjadi sample, karena negri ini pernah ‘hancur’ tatkala dijatuhi bom pada 16 Agustus 1945 namun bisa segera bangkit, jauh meninggalkan negara-negara yang bernasib serupa) bisa menjadi negara yang maju dalam bidang teknologi, karena menempatkan pendidikan pada prioritas utama bangsanya. Dalam hal ini, fenomena kampung terbalik muncul lagi (boleh juga tu Kampung Terbaliknya). Di Indonesia, terkhusus lagi di Kalimantan Barat, rata-rata pendidikan masyarakat malah hanya SD.
Cerita Pak Saloi yang memperoleh tangkapan ikan yang banyak, juga termasuk dalam kategori Kampung Terbalik, karena ia membawa takin dengan cara terbalik, hingga semua ikan tercecer di jalan. Habis. Hanya sisik-sisik ikan yang tersisa.
Tahukah anda akhir kisah Kampung Terbalik?
Ternyata mereka (sang tuan rumah) adalah sebuah keluarga gila yang memang dibuatkan rumah jauh dari masyarakat awam, agar tak mengganggu.
Lalu bagaimana dengan mereka yang mencoba turut dalam alur Kampung Terbalik versi Korupsi, Illegal Logging, serta lainnya? Gilakah? Entahlah pak belalang-pak belalang (mengutip pernyataan P.Ramlee dalam sebuah filmnya).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar