Mahasiswa dikenal sebagai “artis jalanan” (suka demo), membakar ban hingga asap membumbung hitam bak kebakaran, sering memacetkan jalan, serta berteriak-teriak di depan gedung yang kadang “kosong”, meki demikian, mereka memegang peranan penting dalam rangka mengawal proses demokrasi.
Sejarah telah mencatat betapa dibutuhkannya peran-peran mahasiswa pada beberapa dekade sebelum saat ini. Berbagai rezim di berbagai belahan bumi menjadi “korban” idealisme yang digusung oleh mereka, atas nama kepentingan dan kemashlahatan rakyat banyak. Di Indonesia, kisah pergantian kekuasaan negara diwarnai oleh gelombang besar gerakan mahasiswa hingga pelosok-pelosok desa, membahana dan memecah keambiguan demokrasi yang sudah dikekang oleh rezim yang berkuasa selama beberapa waktu. Gerakan mahasiswa menjadi gelombang gerakan sosial untuk melawan tirani yang menindas rakyat.
Pada sejarah runtuhnya kekuasaan Orde Lama (yang terkenal kental dengan paham nasakomnya) gerakan mahasiswa 60-an menjadi ujung tombak. Lalu pada 1998, mahasiswa pula yang menjadi pelopor lahirnya reformasi, pembaruan di segala lini kehidupan masyarakat Indonesia, ditandai dengan robohnya bangunan orde baru yang sentralistik.
Seorang mahasiswa, tugas utamanya adalah belajar. Belajar di manapun ia bisa dan belajar apa saja yang layak untuk dipelajari. Dengan peran yang sangat signifikan tersebut, mahasiswa hendaknya tak hanya sekedar bolak-balik kampus-kostan. Hendaknya seorang mahasiswa sensitive terhadap keadaan sosial yang memang tanggung jawabnya dan membuatnya khas dibanding yang lain. Kekhasan mahasiswa, sebagaimana disampaikan seorang ilmuan Edward Shill, ialah dikarenakan fungsinya yaitu: 1. mencipta dan menyebarkan kebudayaan tinggi, 2. menyediakan bagan-bagan nasional dan antar bangsa, 3. membina keberdayaan dan kebersamaan, 4. mempengaruhi perubahan sosial dan memainkan peran politik.
Melihat berbagai fenomena di atas, hendaknya kita selalu menemukan mahasiswa yang kritis, dan independen (terbebas dari kepentingan dan intervensi apapun). Kekritisan mahasiswa sangat-sangat diharapkan, tentunya untuk kepentingan masyarakat banyak. Bagaimana tatkala pemerintah mengeluarkan kebijakan yang menyengsarakan rakyat, lalu mahasiswa diam membisu ? Tak ada kontrol sosial yang harus dilakukan (tanpa menafikan peran-peran selain mahasiswa tentunya). Atau tatkala kebijakan kampus yang terasa “menindas” mahasiswa, lalu mahasiswa hanya diam, apa jadinya.
“Itulah tugas mahasiswa di alam demokrasi” ungkap seorang teman. Memang, sebuah kritik yang kita sampaikan tak akan bisa diterima dengan lapang dada oleh orang lain, apalagi seorang pejabat. Banyak resiko yang dapat kita terima. Misalnya saja uang beasiswa ditahan, nilai tak keluar atau yang lebih sadis lagi ialah diburu atau bahkan mungkin dibunuh.
Bukanlah hal yang harus ditakutkan selama kita (mahasiswa) benar-benar menyatakan kebaikan dan kenyataan. Toh, telah banyak mahasiswa gugur demi kebenaran dan kemenangan rakyat, contohnya saja Arif Rahman Hakim yang gugur tatkala melakukan demonstrasi menentang masuknya modal asing ke Indonesia pada tahun 1970-an bersamaan dengan kunjungan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka. Atau Elang Mulya Lesmana yang gugur saat proses pergantian orde baru menuju reformasi, hingga Safaruddin, sosok Mahasiswa pahlawan reformasi lokal Kalimantan Barat.
Kritis itu harus, tetapi jangan sampai apa yang kita kritisi itu merupakan pesanan segelintir orang demi kepentingan perut yang sesaat. Saat ini, tak jarang kita lihat dan dengar mahasiswa yang menjadi orangnya si-ini atau orangnya si-itu seraya mengkritik pemerintah yang merupakan lawan “bos”nya. Tentunya hal ini menodai perjuangan mahasiswa pendahulu kita.
Jika berkaca pada sejarah, kita bisa menyaksikan betapa kecewa dan marahnya seorang Soe Hok Gie, tatkala menyaksikan teman-temannya sesama demonstran dan satu perjuangan melebur dalam kekuasaan dengan meninggalkan idealisme dan memilih masuk Golkar.
Mungkin jika dia masih berada di tengah-tengah kita, dia tak kalah geram menyaksikan mahasiswa yang terkadang tampak kritis, idealis dan berbagai/ is-is lainnya, ternyata lantang bersuara karena menjadi sapi pejabat yang menyuarakan aspirasi pejabat, bukan rakyat. Mereka terkadang lantang, karena perut yang telah kering kerontang.
Ada baiknya kita tilik lagi peran apa yang sebenarnya harus kita emban, jika kita telah menjadi hamba penguasa, lalu siapa lagi yang akan menyuarakan kepentingan rakyat? Peran dan fungsi mahasiswa harus kembali dipertegas. Mahasiswa harus mampu kritis dan mengambil peran untuk melakukan banyak perubahan terbaik untuk bangsanya. Ingat, mahasiswa adalah agent of change (agen perubah). Suara lantangnya sangat diharapkan kapan dan di manapun ia berada !
Nasaruddin

Mahasiswa harus tetap independen ! Jangan sampai jadi anjing2 penjilat para penguasa. Berkedok kritis, tapi untuk dapat duit....! Itu anjing namanya !
BalasHapusTRUS BERKARYA... MUSNAH KAN ANJING-ANJING PENJILAT
BalasHapus